Text
IMPLEMENTASI STANDARD S-111 SEBAGAI ALTERNATIF PEMBUATAN PETA ELEKTRONIK ARUS LAUT DI PUSHIDROSAL TERKAIT DENGAN KEGIATAN SAR TNI AL STUDI KASUS BENOA BALI
Perkembangan teknologi pemetaan laut telah mengalami transformasi signifikan sejak era peta kertas menuju era dijital. Konsep dijital twin semakin matang dengan mengintegrasikan data batimetri dengan simulasi arus laut. Peta laut dijital tidak hanya menyediakan informasi kedalaman perairan, tetapi juga memvisualisasikan arus laut permukaan secara real time sesuai dengan posisi kapal, hingga rencana kapal akan berlabuh di masa depan. Informasi arus ini sangat krusial untuk mendukung proses navigasi yang lebih efisien dan aman. Implementasi standar S-100 berfokus pada dijitalisasi data arus laut ke dalam format ECDIS. Proses ini melibatkan konversi data model hidrodinamika ke struktur S-100 yang mendukung interoperabilitas dan akurasi spasial. Namun, berbagai tantangan muncul, antara lain kebutuhan metadata yang konsisten, kapasitas penyimpanan besar, adaptasi perangkat lunak, perangkat keras, dan konektivitas jaringan. Indonesia memiliki peluang strategis dalam mengembangkan standar S-100 nasional mengingat peran Pushidrosal sebagai pusat data hidrografi. Pemanfaatan perangkat lunak Mike 21/3 yang sudah dimiliki, dan juga pemrograman python, memungkinkan pemodelan arus laut yang akurat, komprehensif serta terintegrasi ke format S-100. Selain itu, kontrol kualitas data yang ketat antara data lapangan dengan data S-100 akan memastikan keandalan hasil sebelum didistribusikan kepada operator dikapal. Implementasi skala nasional bagi seluruh KRI di Indonesia dalam menjaga kedaulatan khususnya saat
bernavigasi diarea dengan kondisi arus ekstrim akan sangat membantu dalam menyusun rencana berlayar yang lebih aman. Sebagai strategi lanjutan, kolaborasi multi-stakeholder nasional perlu dijalankan untuk mendukung keamanan bernavigasi dan menjaga kedaulatan wilayah perairan Indonesia. Pengembangan protokol standar untuk validasi data arus laut, implementasi sistem monitoring real time operasional, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi prioritas. Kebijakan integrasi antara lembaga pemerintah, akademisi, dan industri maritim juga
harus diperkuat. Dengan demikian, Pushidrosal dapat menjadi pionir dijitalisasi peta laut berstandar S-100 yang handal dan aman.
Tidak tersedia versi lain