Text
STRATEGI KESIAPAN TEMPUR PRAJURIT BATALYON INFANTERI 6 MARINIR GUNA MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENDARATAN DALAM RANGKA KEBERHASILAN OPERASI AMFIBI
Operasi amfibi merupakan salah satu bentuk operasi paling kompleks
dalam pelaksanaan tugas militer karena menuntut keterpaduan antara unsur
laut, darat, dan udara, sehingga kesiapan tempur prajurit menjadi faktor
penentu dalam keberhasilan serbuan pendaratan. Dalam konteks Batalyon
Infanteri 6 Marinir, dinamika ancaman modern seperti perang hibrida,
A2/AD, serangan presisi, dan penggunaan sistem nirawak menuntut
adaptasi yang lebih cepat serta peningkatan kemampuan prajurit secara
menyeluruh. Kondisi yang terlihat di satuan menunjukkan bahwa kesiapan
fisik yang bervariasi, penguasaan taktik pendaratan yang belum merata,
keterbatasan latihan berbasis medan pesisir nyata, serta pemanfaatan
teknologi tempur seperti navigasi digital, komunikasi taktis, dan perangkat
situational awareness yang masih terbatas menjadi kendala dalam
pencapaian kesiapan tempur optimal. Oleh karena itu, penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis strategi peningkatan kesiapan tempur prajurit
Yonif 6 Marinir, mengidentifikasi faktor penghambat, menjelaskan
keterkaitan kesiapan tempur dengan efektivitas pendaratan, serta
merumuskan kebijakan dan upaya peningkatan dalam konteks perang
modern. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif
dengan Soft Systems Methodology (SSM), melalui wawancara mendalam
dengan para komandan, staf operasi–latihan, dan instruktur taktik, ditambah
observasi pengalaman peneliti serta studi dokumentasi, yang kemudian
dianalisis menggunakan reduksi data, kategorisasi, pengkodean tematik,
dan pemetaan pola menggunakan NVivo 12. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa kesiapan tempur prajurit dipengaruhi oleh kualitas pembinaan fisik,
penguasaan teknik dan taktik pendaratan, intensitas latihan integratif lintas
matra, dukungan logistik latihan, serta kesiapan penggunaan teknologi
modern. Penelitian juga menegaskan bahwa peningkatan kesiapan tempur
berpengaruh langsung terhadap efektivitas pendaratan, terutama dalam
aspek kecepatan manuver, presisi koordinasi, dan ketahanan prajurit di
pantai sasaran. Kesimpulannya, peningkatan kesiapan tempur prajurit Yonif
6 Marinir harus dilakukan melalui strategi terintegrasi yang mencakup
penguatan pembinaan fisik, peningkatan penguasaan taktik pendaratan,
pemanfaatan teknologi tempur modern, latihan berbasis ancaman
kontemporer, dan penyempurnaan doktrin guna mendukung keberhasilan
operasi amfibi..
Kata Kunci: Kesiapan tempur, Batalyon Infanteri 6 Marinir, operasi
amfibi, taktik pendaratan, strategi pembinaan, teknologi militer.
Tidak tersedia versi lain