Text
ANALISIS OPERASI KOGABWILHAN I DALAM MENGHADAPI ANCAMAN NON - KONVENSIONAL GUNA MENDUKUNG KEAMANAN NASIONAL
Meningkatnya kompleksitas ancaman non-konvensional seperti terorisme,
kejahatan siber, dan disinformasi memberikan tantangan signifikan bagi
keamanan nasional Indonesia. Komando Gabungan Wilayah Pertahanan I
(Kogabwilhan I), sebagai komando operasional utama di wilayah barat yang
strategis, berperan krusial dalam mengintegrasikan kekuatan Tri Matra TNI
dalam menghadapi ancaman multidimensional tersebut. Masalah yang
diangkat adalah belum optimalnya pelaksanaan dan efektivitas operasi
Kogabwilhan I dalam menghadapi spektrum ancaman hibrida, terutama
karena adanya hambatan utama seperti kecepatan adaptasi teknologi
ancaman yang melampaui siklus pembaruan alutsista, kesulitan
mengidentifikasi ancaman di wilayah abu-abu (grey zone), serta kurangnya
Sumber Daya Manusia (SDM) digital native dalam analisis data. Tujuan
penelitian ini adalah menganalisis secara mendalam pelaksanaan dan
efektivitas operasi Kogabwilhan I dalam menghadapi ancaman non
konvensional dan hibrida, serta merumuskan rekomendasi strategis untuk
meningkatkan kapabilitas dan mengatasi faktor-faktor penghambat
tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan desain
studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur dengan
Narasumber kunci dan didukung studi dokumentasi. Data dianalisis secara
tematik menggunakan perangkat lunak NVivo, dengan validitas diperkuat
melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan Kogabwilhan I
telah mentransformasikan operasinya menuju model Operasi Gabungan
Hibrida Terpadu yang adaptif, mengintegrasikan Operasi Militer Selain
Perang (OMSP) berbasis soft power dan pembinaan teritorial sebagai lapis
pertahanan pertama. Namun, efektivitas operasi sangat bergantung pada
tingkat sinergi lintas sektor dengan institusi seperti Polri, Badan Intelijen
Negara (BIN), dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).
Untuk upaya mengatasi permasalahan, direkomendasikan secara
implementatif pembentukan Pusat Analisis Data Terintegrasi (Integrated
Data Fusion Center) dan prioritas anggaran untuk kapabilitas siber maritim.
Secara teoritis, diusulkan pula pengembangan Model Analisis Grey Zone
Terpadu dan perumusan doktrin Hybrid Deterrence baru untuk memperkuat
respons pertahanan.
Kata Kunci: Kogabwilhan I, Ancaman Non-Konvensional, Operasi Hibrida,
Sinergi Lintas Sektor, Grey Zone.
Tidak tersedia versi lain