Text
ANALISIS PERAN SATUAN TUGAS MARINIR PAM AMBALAT GUNA MENGAMANAN PERBATASAN DI PULAU SEBATIK DALAM RANGKA MENINGKATKAN PERTAHANAN MARITIM
Pulau Sebatik, sebagai beranda terdepan NKRI yang berbatasan
langsung dengan Malaysia, menghadapi kompleksitas ancaman hibrida
yang unik dan dinamis. Wilayah ini tidak hanya menjadi episentrum
sengketa maritim di Blok Ambalat yang rawan konflik, tetapi juga mengalami
porositas perbatasan ekstrem dan ketergantungan sosial-ekonomi
masyarakat yang tinggi pada negara tetangga. Kondisi ini menciptakan
kerentanan struktural yang secara persisten dieksploitasi oleh jaringan
kejahatan transnasional, meliputi penyelundupan narkotika, Tindak Pidana
Perdagangan Orang (TPPO), dan aktivitas Illegal, Unreported, and
Unregulated (IUU) fishing. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
secara komprehensif implementasi peran ganda (dual role) Satuan Tugas
Marinir (Satgasmar) Pengamanan Ambalat, mengkaji kontribusi nyatanya
dalam menanggulangi spektrum ancaman non-tradisional, serta
menganalisis dampaknya terhadap penguatan Ketahanan Maritim
Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan
pendekatan studi kasus untuk menangkap kompleksitas operasional di
lapangan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam
dengan pemangku kepentingan kunci, analisis dokumentasi visual, dan
studi dokumen relevan, yang kemudian dianalisis menggunakan teknik
analisis tematik yang ketat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
Satgasmar secara efektif mengintegrasikan pendekatan hard power melalui
intensifikasi patroli keamanan dan penegakan hukum yang tegas, dengan
pendekatan soft power melalui program Pembinaan Teritorial (Binter) yang
humanis di bidang pendidikan, sosial, dan layanan kesehatan dasar.
Temuan krusialnya adalah adanya hubungan simbiosis mutualisme: kondisi
aman yang diciptakan oleh hard power menjadi prasyarat mutlak bagi
keberhasilan soft power, sementara kepercayaan publik yang dibangun
melalui soft power dikonversi menjadi informasi intelijen krusial berbasis
komunitas yang mempertajam efektivitas operasi hard power. Sinergi ini
terbukti berkontribusi signifikan dalam mereduksi ancaman non-tradisional.
Secara kumulatif, peran multifaset Satgasmar secara nyata memperkokoh
pilar-pilar ketahanan maritim, tidak hanya pada aspek pertahanan dan
keamanan, tetapi juga stabilitas ekonomi dan ketahanan sosial-budaya di
wilayah perbatasan. Penelitian ini merekomendasikan formalisasi doktrin
operasi pengamanan perbatasan terintegrasi, prioritas modernisasi
teknologi pengawasan, dan pengembangan modul pelatihan pratugas
berbasis pendekatan komprehensif guna menjamin keberlanjutan
efektivitas misi di masa depan.
Kata Kunci: Satuan Tugas Marinir, Peran Ganda, Ketahanan Maritim,
Keamanan Perbatasan, Pulau Sebatik.
Tidak tersedia versi lain