Text
ANALISIS PEMANFAATAN LISTRIK DARAT UNTUK EFISIENSI PENGGUNAAN BAHAN BAKAR KRI SAAT SANDAR GUNA MENDUKUNG KEBIJAKAN EFISIENSI ANGGARAN PERTAHANAN
Tingginya konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) oleh Kapal Perang
Republik Indonesia (KRI) saat sandar menjadi beban signifikan bagi
anggaran pertahanan. Ketergantungan pada Diesel Generator (DG) kapal
untuk kebutuhan listrik di pangkalan, seperti di Dermaga Pondok Dayung,
tidak only boros tetapi juga mempercepat keausan alutsista. Penelitian ini
bertujuan untuk (1) menganalisis perbandingan biaya operasional antara
DG kapal dan listrik darat (PLN), (2) mengevaluasi kapasitas teknis
infrastruktur listrik darat yang ada, dan (3) merumuskan strategi
peningkatan kapasitas serta pemanfaatannya guna mendukung kebijakan
efisiensi anggaran. Kebaruan penelitian ini terletak pada fokusnya di
konteks militer spesifik (KRI) pada pangkalan non-ideal, bukan di pelabuhan
komersial. Penelitian ini secara langsung mengukur konsumsi BBM DG dan
membandingkannya dengan biaya listrik darat untuk menghasilkan
rekomendasi kapasitas ideal dan justifikasi anggaran yang aplikatif, mengisi
kesenjangan penelitian di lingkungan pertahanan. Penelitian ini
menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus
di Dermaga Pondok Dayung, Kodaeral III Jakarta. Pengumpulan data
dilakukan melalui triangulasi wawancara mendalam dengan pemangku
kebijakan dan pengguna, observasi lapangan, dan studi dokumentasi
logbook serta data teknis. Data dianalisis secara komprehensif
menggunakan Analisis Biaya-Manfaat/Cost-Benefit Analysis (CBA) untuk
mengukur kelayakan finansial dan analisis SWOT untuk merumuskan
strategi. Hasil penelitian menunjukkan potensi efisiensi yang masif. Analisis
CBA mengidentifikasi potensi penghematan biaya operasional sebesar Rp
131,8 Miliar per tahun untuk 28 KRI di Pondok Dayung, dengan nilai Benefit
Cost Ratio (BCR) 2,04 atas usulan investasi revitalisasi infrastruktur.
Namun, pemanfaatan ini terhambat oleh kelemahan internal yang kritis,
yakni infrastruktur yang tidak memadai, terutama akibat inkompatibilitas
frekuensi (pasokan PLN 50 Hz vs kebutuhan KRI 60 Hz) dan kapasitas yang
terbatas. Analisis SWOT menempatkan organisasi pada Kuadran III (Turn
Around). Rekomendasi strategis utama adalah menggunakan data
penghematan sebagai justifikasi percepatan investasi infrastruktur,
menerbitkan regulasi internal yang mewajibkan penggunaan listrik darat,
dan menginisiasi kerja sama dengan PLN untuk akselerasi perbaikan.
Kata kunci: Efisiensi Energi, Listrik Darat (Shore Connection),
Anggaran Pertahanan, Analisis Biaya-Manfaat, Manajemen Pangkalan.
Tidak tersedia versi lain