Text
OPTIMALISASI PEMILIHAN UNSUR OPERASI TNI ANGKATAN LAUT DALAM MENGHADAPI ANCAMAN ZONA ABU-ABU DI LAUT NATUNA UTARA MENGGUNAKAN METODE AHP-TOPSIS
Laut Natuna Utara menghadapi ancaman zona abu-abu (grey zone
threats), menciptakan dilema operasional bagi TNI Angkatan Laut untuk
merespons tanpa eskalasi. Penelitian ini membangun model keputusan
kuantitatif untuk menentukan unsur operasi paling optimal dalam
menghadapi ancaman spesifik ini. Metode hibrida AHP-TOPSIS digunakan
untuk membobot kriteria dan merangking lima alternatif operasi Koarmada
I (KRI Bung Tomo, Bung Karno, Pattimura, Sampari, dan CN-235 MPA).
Hasil AHP menunjukkan kriteria terpenting: Kemampuan Menghadapi Zona
Abu-abu (26,0%), Surveillance & Intelijen (22,8%), dan Operasional
(17,9%). Kemampuan Tempur (3,0%) serta Efisiensi (1,7%) berprioritas
terendah, mengindikasikan pergeseran fokus dari firepower ke presence
dan surveillance. Perangkingan TOPSIS menempatkan CN-235 MPA (nilai
0,766) di peringkat pertama, diikuti KRI Kelas Bung Tomo (0,634), KRI
Sampari (0,417), KRI Bung Karno (0,299), dan KRI Pattimura (0,267). CN235 MPA unggul dalam ISR, sementara KRI Bung Tomo unggul dalam
presence fisik dan daya tahan. Solusi optimal yang disimpulkan adalah
sinergi gugus tugas ("Mata ISR" CN-235 dan "Perisai Kehadiran" KRI Bung
Tomo). Model ini dapat menjadi alat bantu keputusan strategis pimpinan TNI
Angkatan Laut.
Kata Kunci: Optimalisasi, Unsur Operasi, TNI Angkatan Laut, Zona Abuabu, Laut Natuna Utara, AHP, TOPSIS
Tidak tersedia versi lain